Senin, 31 Mei 2010

Globalisasi Memicu Pergeseran Nilai Budaya

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Globalisasi
adalah
suatu
fenomena
khusus
dalam
peradaban
manusia
yang
bergerak
terus
dalam
masyarakat
global
dan
merupakan
bagian
dari
proses
manusia
global
itu.
Kehadiran
teknologi
informasi
dan
teknologi
komunikasi
mempercepat
akselerasi
proses
globalisasi
ini.
Globalisasi
menyentuh
seluruh
aspek
penting
kehidupan.
Globalisasi
menciptakan
berbagai
tantangan
dan
permasalahan
baru
yang
harus
dijawab,
dipecahkan
dalam
upaya
memanfaatkan
globalisasi
untuk
kepentingan
kehidupan.
Globalisasi
sendiri
merupakan
sebuah
istilah
yang
muncul
sekitar
dua
puluh
tahun
yang
lalu, dan
mulai
begitu
populer
sebagai
ideologi
baru
sekitar
lima
atau
sepuluh
tahun
terakhir.
Sebagai
istilah,
globalisasi
begitu
mudah
diterima
atau
dikenal
masyarakat
seluruh
dunia.
Wacana
globalisasi
sebagai
sebuah
proses
ditandai
dengan
pesatnya
perkembangan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
sehingga
ia
mampu
mengubah
dunia
secara
mendasar.
Globalisasi
sering
diperbincangkan
oleh
banyak
orang,
mulai
dari
para
pakar
ekonomi,
sampai
penjual
iklan.
Dalam
kata
globalisasi
tersebut
mengandung
suatu
pengetian
akan
hilangnya
satu
situasi
dimana
berbagai
pergerakan
barang
dan jasa
antar
negara
diseluruh
dunia
dapat
bergerak
bebas
dan
terbuka
dalam
perdagangan.
Dan
dengan
terbukanya
satu
negara
terhadap
negara
lain,
yang
masuk
bukan
hanya
barang
dan
jasa,
tetapi
juga
teknologi,
pola
konsumsi,
pendidikan,
nilai
budaya
dan
lain-lain.
Konsep
akan
globalisasi
menurut
Robertson
(1992),
mengacu
pada
penyempitan
dunia
secara
insentif
dan
peningkatan
kesadaran
kita
akan
dunia,
yaitu
semakin
meningkatnya
koneksi
global
dan
pemahaman
kita
akan
koneksi
tersebut.
Di sini
penyempitan
dunia
dapat
dipahami
dalam
konteks
institusi
modernitas
dan
intensifikasi
kesadaran
dunia
dapat
dipersepsikan
refleksif
dengan
lebih
baik
secara
budaya.
Globalisasi
memiliki
banyak
penafsiran
dari
berbagai
sudut
pandang.
Sebagian
orang
menafsirkan
globalisasi
sebagai
proses
pengecilan
dunia
atau
menjadikan
dunia
sebagaimana
layaknya
sebuah
perkampungan
kecil.
Sebagian
lainnya
menyebutkan
bahwa
globalisasi
adalah
upaya
penyatuan
masyarakat
dunia
dari sisi
gaya
hidup,
orientasi,
dan
budaya.
Pengertian
lain dari
globalisasi
seperti
yang
dikatakan
oleh
Barker
(2004)
adalah
bahwa
globalisasi
merupakan
koneksi
global
ekonomi,
sosial,
budaya
dan
politik
yang
semakin
mengarah
ke
berbagai
arah di
seluruh
penjuru
dunia
dan
merasuk
ke
dalam
kesadaran
kita.
Produksi
global
atas
produk
lokal
dan
lokalisasi
produk
global
Globalisasi
adalah
proses
dimana
berbagai
peristiwa,
keputusan
dan
kegiatan
di
belahan
dunia
yang
satu
dapat
membawa
konsekuensi
penting
bagi
berbagai
individu
dan
masyarakat
di
belahan
dunia
yang
lain.(A.G.
Mc.Grew,
1992).
Proses
perkembangan
globalisasi
pada
awalnya
ditandai
kemajuan
bidang
teknologi
informasi
dan
komunikasi.
Bidang
tersebut
merupakan
penggerak
globalisasi.
Dari
kemajuan
bidang
ini
kemudian
mempengaruhi
sektor-
sektor
lain
dalam
kehidupan,
seperti
bidang
politik,
ekonomi,
sosial,
budaya
dan
lain-lain.
Contoh
sederhana
dengan
teknologi
internet,
parabola
dan TV,
orang di
belahan
bumi
manapun
akan
dapat
mengakses
berita
dari
belahan
dunia
yang
lain
secara
cepat.
Hal ini
akan
terjadi
interaksi
antarmasyarakat
dunia
secara
luas,
yang
akhirnya
akan
saling
mempengaruhi
satu
sama
lain,
terutama
pada
kebudayaan
daerah,seperti
kebudayaan
gotong
royong,menjenguk
tetangga
sakit
dan
lain-lain.
Globalisasi
juga
berpengaruh
terhadap
pemuda
dalam
kehidupan
sehari-
hari,
seperti
budaya
berpakaian,
gaya
rambut
dan
sebagainya
B.
IDENTIFIKASI
MASALAH
Dalam
perkembangannya
globalisasi
menimbulkan
berbagai
masalah
dalam
bidang
kebudayaan,misalnya :
-
hilangnya
budaya
asli
suatu
daerah
atau
suatu
negara -
terjadinya
erosi
nilai-
nilai
budaya,
-
menurunnya
rasa
nasionalisme
dan
patriotisme
-
hilangnya
sifat
kekeluargaan
dan
gotong
royong -
kehilangan
kepercayaan
diri -
gaya
hidup
kebarat-
baratan
C.
RUMUSAN
MASALAH
Adanya
globalisasi
menimbulkan
berbagai
masalah
terhadap
eksistensi
kebudayaan
daerah,
salah
satunya
adalah
terjadinya
penurunan
rasa
cinta
terhadap
kebudayaan
yang
merupakan
jati diri
suatu
bangsa,
erosi
nilai-
nilai
budaya,
terjadinya
akulturasi
budaya
yang
selanjutnya
berkembang
menjadi
budaya
massa.
D.
TUJUAN
Adapun
tujuan
dari
pembuatan
makalah
ini
yaitu : 1.
Mengetahui
pengaruh
globalisasi
terhadap
eksistensi
kebudayaan
daerah
2. Untuk
meningkatkan
kesadaran
remaja
untuk
menjunjung
tinggi
kebudayaan
bangsa
sendiri
karena
kebudayaan
merupakan
jati diri
bangsa
BAB II
KERANGKA
TEORITIK
DAN
RUMUSAN
HIPOTESIS
A.
BATASAN
ISTILAH
Dalam
pembuatan
makalah
ini
menggunakan
istilah-
istilah
yang
sudah
dimengerti
oleh
masyarakat
banyak,
adapun
tujuan
dari
penggunaan
istilah-
istilah
tersebut
yaitu
untuk
memudahkan
pembaca
dalam
membaca
makalah
ini.
B. SUDUT
PANDANG
PENDEKATAN
Sudut
pandang
yang
kami
gunakan
dalam
pembuatan
mekalah
ini yaitu
sudut
pandang
secara
sosiologis
dan
psikologis
yaitu
pengaruh
globalisasi
pada
masyarakat
umum
dan
sikap
para
pemuda
dalam
menyikapi
pengaruh
budaya
asing.
C.
KERANGKA
BERPIKIR
Dalam
pembuatan
makalah
ini kami
menggunakan
pola
paragraf
dari
umum
ke
khusus,
dengan
alasan
agar
pembaca
merasa
bingung
dalam
membaca
karena
dalam
membaca
dimulai
dari hal-
hal yang
ringan
dulu
baru
meningkat
ke hal-
hal yang
lebih
kompleks.
D.
RUMUSAN
HIPOTESIS
Adanya
globalisasi
yang
memiliki
dampak
positif
maupun
negative,
maka
perlu
adanya
tindak
lanjut
dalam
menyikapi
globalisasi
tersebut.
Adapun
tindakan-
tindakan
yang
dapat
dilakukan
yaitu : 1.
Menambah
porsi
pengetahuan
tentang
kebudayaan
bangsa
di
sekolah-
sekolah
baik
mulai
dari
tingkat
SD
sampai
perguruan
tinggi 2.
Menyeleksi
kemunculan
globalisasi
kebudayaan
baru,
sehingga
budaya
yang
masuk
tidak
merugikan
dan
berdampak
negative.
3.
Mengadakan
berbagai
pertunjukan
kubudayaan
4.
Membatasi
acara-
acara
yang
dapat
memunculkan
rasa
cinta
terhadap
budaya
asing.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
GLOBALISASI
DAN
BUDAYA
Gaung
globalisasi,
yang
sudah
mulai
terasa
sejak
akhir
abad
ke-20,
telah
membuat
masyarakat
dunia,
termasuk
bangsa
Indonesia
harus
bersiap-
siap
menerima
kenyataan
masuknya
pengaruh
luar
terhadap
seluruh
aspek
kehidupan
bangsa.
Salah
satu
aspek
yang
terpengaruh
adalah
kebudayaan.
Terkait
dengan
kebudayaan,
kebudayaan
dapat
diartikan
sebagai
nilai-
nilai
(values)
yang
dianut
oleh
masyarakat
ataupun
persepsi
yang
dimiliki
oleh
warga
masyarakat
terhadap
berbagai
hal.
Atau
kebudayaan
juga
dapat
didefinisikan
sebagai
wujudnya,
yang
mencakup
gagasan
atau
ide,
kelakuan
dan
hasil
kelakuan
(Koentjaraningrat),
dimana
hal-hal
tersebut
terwujud
dalam
kesenian
tradisional
kita.
Oleh
karena
itu nilai-
nilai
maupun
persepsi
berkaitan
dengan
aspek-
aspek
kejiwaan
atau
psikologis,
yaitu
apa
yang
terdapat
dalam
alam
pikiran.
Aspek-
aspek
kejiwaan
ini
menjadi
penting
artinya
apabila
disadari,
bahwa
tingkah
laku
seseorang
sangat
dipengaruhi
oleh apa
yang
ada
dalam
alam
pikiran
orang
yang
bersangkutan.
Sebagai
salah
satu
hasil
pemikiran
dan
penemuan
seseorang
adalah
kesenian,
yang
merupakan
subsistem
dari
kebudayaan
Bagi
bangsa
Indonesia
aspek
kebudayaan
merupakan
salah
satu
kekuatan
bangsa
yang
memiliki
kekayaan
nilai
yang
beragam,
termasuk
keseniannya.
Kesenian
rakyat,
salah
satu
bagian
dari
kebudayaan
bangsa
Indonesia
tidak
luput
dari
pengaruh
globalisasi.
Globalisasi
dalam
kebudayaan
dapat
berkembang
dengan
cepat,
hal ini
tentunya
dipengaruhi
oleh
adanya
kecepatan
dan
kemudahan
dalam
memperoleh
akses
komunikasi
dan
berita
namun
hal ini
justru
menjadi
bumerang
tersendiri
dan
menjadi
suatu
masalah
yang
paling
krusial
atau
penting
dalam
globalisasi,
yaitu
kenyataan
bahwa
perkembangan
ilmu
pengertahuan
dikuasai
oleh
negara-
negara
maju,
bukan
negara-
negara
berkembang
seperti
Indonesia.
Mereka
yang
memiliki
dan
mampu
menggerakkan
komunikasi
internasional
justru
negara-
negara
maju.
Akibatnya,
negara-
negara
berkembang,
seperti
Indonesia
selalu
khawatir
akan
tertinggal
dalam
arus
globalisai
dalam
berbagai
bidang
seperti
politik,
ekonomi,
sosial,
budaya,
termasuk
kesenian
kita.
Wacana
globalisasi
sebagai
sebuah
proses
ditandai
dengan
pesatnya
perkembangan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
sehingga
ia
mampu
mengubah
dunia
secara
mendasar.
Komunikasi
dan
transportasi
internasional
telah
menghilangkan
batas-
batas
budaya
setiap
bangsa.
Kebudayaan
setiap
bangsa
cenderung
mengarah
kepada
globalisasi
dan
menjadi
peradaban
dunia
sehingga
melibatkan
manusia
secara
menyeluruh.
Simon
Kemoni,
sosiolog
asal
Kenya
mengatakan
bahwa
globalisasi
dalam
bentuk
yang
alami
akan
meninggikan
berbagai
budaya
dan
nilai-
nilai
budaya.
Dalam
proses
alami
ini,
setiap
bangsa
akan
berusaha
menyesuaikan
budaya
mereka
dengan
perkembangan
baru
sehingga
mereka
dapat
melanjutkan
kehidupan
dan
menghindari
kehancuran.
Tetapi,
menurut
Simon
Kimoni,
dalam
proses
ini,
negara-
negara
harus
memperkokoh
dimensi
budaya
mereka
dan
memelihara
struktur
nilai-
nilainya
agar
tidak
dieliminasi
oleh
budaya
asing.
Dalam
rangka
ini,
berbagai
bangsa
haruslah
mendapatkan
informasi
ilmiah
yang
bermanfaat
dan
menambah
pengalaman
mereka.
Terkait
dengan
seni dan
budaya,
Seorang
penulis
asal
Kenya
bernama
Ngugi
Wa
Thiong’o
menyebutkan
bahwa
perilaku
dunia
Barat,
khususnya
Amerika
seolah-
olah
sedang
melemparkan
bom
budaya
terhadap
rakyat
dunia.
Mereka
berusaha
untuk
menghancurkan
tradisi
dan
bahasa
pribumi
sehingga
bangsa-
bangsa
tersebut
kebingungan
dalam
upaya
mencari
indentitas
budaya
nasionalnya.
Penulis
Kenya
ini
meyakini
bahwa
budaya
asing
yang
berkuasa
di
berbagai
bangsa,
yang
dahulu
dipaksakan
melalui
imperialisme,
kini
dilakukan
dalam
bentuk
yang
lebih
luas
dengan
nama
globalisasi.
B.
GLOBALISASI
DALAM
KEBUDAYAAN
TRADISIONAL
DI
INDONESIA
Proses
saling
mempengaruhi
adalah
gejala
yang
wajar
dalam
interaksi
antar
masyarakat.
Melalui
interaksi
dengan
berbagai
masyarakat
lain,
bangsa
Indonesia
ataupun
kelompok-
kelompok
masyarakat
yang
mendiami
nusantara
(sebelum
Indonesia
terbentuk)
telah
mengalami
proses
dipengaruhi
dan
mempengaruhi.
Kemampuan
berubah
merupakan
sifat
yang
penting
dalam
kebudayaan
manusia.
Tanpa
itu
kebudayaan
tidak
mampu
menyesuaikan
diri
dengan
keadaan
yang
senantiasa
berubah.
Perubahan
yang
terjadi
saat ini
berlangsung
begitu
cepat.
Hanya
dalam
jangka
waktu
satu
generasi
banyak
negara-
negara
berkembang
telah
berusaha
melaksanakan
perubahan
kebudayaan,
padahal
di
negara-
negara
maju
perubahan
demikian
berlangsung
selama
beberapa
generasi.
Pada
hakekatnya
bangsa
Indonesia,
juga
bangsa-
bangsa
lain,
berkembang
karena
adanya
pengaruh-
pengaruh
luar.
Kemajuan
bisa
dihasilkan
oleh
interaksi
dengan
pihak
luar, hal
inilah
yang
terjadi
dalam
proses
globalisasi.
Oleh
karena
itu,
globalisasi
bukan
hanya
soal
ekonomi
namun
juga
terkait
dengan
masalah
atau isu
makna
budaya
dimana
nilai dan
makna
yang
terlekat
di
dalamnya
masih
tetap
berarti..
Masyarakat
Indonesia
merupakan
masyarakat
yang
majemuk
dalam
berbagai
hal,
seperti
anekaragaman
budaya,
lingkungan
alam,
dan
wilayah
geografisnya.
Keanekaragaman
masyarakat
Indonesia
ini
dapat
dicerminkan
pula
dalam
berbagai
ekspresi
keseniannya.
Dengan
perkataan
lain,
dapat
dikatakan
pula
bahwa
berbagai
kelompok
masyarakat
di
Indonesia
dapat
mengembangkan
keseniannya
yang
sangat
khas.
Kesenian
yang
dikembangkannya
itu
menjadi
model-
model
pengetahuan
dalam
masyarakat.
C.
PERUBAHAN
BUDAYA
DALAM
GLOBALISASI ;
KESENIAN
YANG
BERTAHAN
DAN
YANG
TERSISIHKAN
Perubahan
budaya
yang
terjadi
di dalam
masyarakat
tradisional,
yakni
perubahan
dari
masyarakat
tertutup
menjadi
masyarakat
yang
lebih
terbuka,
dari
nilai-
nilai
yang
bersifat
homogen
menuju
pluralisme
nilai dan
norma
social
merupakan
salh
satu
dampak
dari
adanya
globalisasi.
Ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
telah
mengubah
dunia
secara
mendasar.
Komunikasi
dan
sarana
transportasi
internasional
telah
menghilangkan
batas-
batas
budaya
setiap
bangsa.
Kebudayaan
setiap
bangsa
cenderung
mengarah
kepada
globalisasi
dan
menjadi
peradaban
dunia
sehingga
melibatkan
manusia
secara
menyeluruh.
Misalnya
saja
khusus
dalam
bidang
hiburan
massa
atau
hiburan
yang
bersifat
masal,
makna
globalisasi
itu
sudah
sedemikian
terasa.
Sekarang
ini
setiap
hari kita
bisa
menyimak
tayangan
film di
tv yang
bermuara
dari
negara-
negara
maju
seperti
Amerika
Serikat,
Jepang,
Korea,
dll
melalui
stasiun
televisi
di tanah
air.
Belum
lagi
siaran
tv
internasional
yang
bisa
ditangkap
melalui
parabola
yang
kini
makin
banyak
dimiliki
masyarakat
Indonesia.
Sementara
itu,
kesenian-
kesenian
populer
lain
yang
tersaji
melalui
kaset,
vcd, dan
dvd
yang
berasal
dari
manca
negara
pun
makin
marak
kehadirannya
di
tengah-
tengah
kita.
Fakta
yang
demikian
memberikan
bukti
tentang
betapa
negara-
negara
penguasa
teknologi
mutakhir
telah
berhasil
memegang
kendali
dalam
globalisasi
budaya
khususnya
di
negara
ke tiga.
Peristiwa
transkultural
seperti
itu mau
tidak
mau
akan
berpengaruh
terhadap
keberadaan
kesenian
kita.
Padahal
kesenian
tradisional
kita
merupakan
bagian
dari
khasanah
kebudayaan
nasional
yang
perlu
dijaga
kelestariannya.
Di saat
yang
lain
dengan
teknologi
informasi
yang
semakin
canggih
seperti
saat ini,
kita
disuguhi
oleh
banyak
alternatif
tawaran
hiburan
dan
informasi
yang
lebih
beragam,
yang
mungkin
lebih
menarik
jika
dibandingkan
dengan
kesenian
tradisional
kita.
Dengan
parabola
masyarakat
bisa
menyaksikan
berbagai
tayangan
hiburan
yang
bersifat
mendunia
yang
berasal
dari
berbagai
belahan
bumi.
Kondisi
yang
demikian
mau
tidak
mau
membuat
semakin
tersisihnya
kesenian
tradisional
Indonesia
dari
kehidupan
masyarakat
Indonesia
yang
sarat
akan
pemaknaan
dalam
masyarakat
Indonesia.
Misalnya
saja
bentuk-
bentuk
ekspresi
kesenian
etnis
Indonesia,
baik
yang
rakyat
maupun
istana,
selalu
berkaitan
erat
dengan
perilaku
ritual
masyarakat
pertanian.
Dengan
datangnya
perubahan
sosial
yang
hadir
sebagai
akibat
proses
industrialisasi
dan
sistem
ekonomi
pasar,
dan
globalisasi
informasi,
maka
kesenian
kita pun
mulai
bergeser
ke arah
kesenian
yang
berdimensi
komersial.
Kesenian-
kesenian
yang
bersifat
ritual
mulai
tersingkir
dan
kehilangan
fungsinya.
Sekalipun
demikian,
bukan
berarti
semua
kesenian
tradisional
kita
lenyap
begitu
saja.
Ada
berbagai
kesenian
yang
masih
menunjukkan
eksistensinya,
bahkan
secara
kreatif
terus
berkembang
tanpa
harus
tertindas
proses
modernisasi.
Pesatnya
laju
teknologi
informasi
atau
teknologi
komunikasi
telah
menjadi
sarana
difusi
budaya
yang
ampuh,
sekaligus
juga
alternatif
pilihan
hiburan
yang
lebih
beragam
bagi
masyarakat
luas.
Akibatnya
masyarakat
tidak
tertarik
lagi
menikmati
berbagai
seni
pertunjukan
tradisional
yang
sebelumnya
akrab
dengan
kehidupan
mereka.
Misalnya
saja
kesenian
tradisional
wayang
orang
Bharata,
yang
terdapat
di
Gedung
Wayang
Orang
Bharata
Jakarta
kini
tampak
sepi
seolah-
olah tak
ada
pengunjungnya.
Hal ini
sangat
disayangkan
mengingat
wayang
merupakan
salah
satu
bentuk
kesenian
tradisional
Indonesia
yang
sarat
dan
kaya
akan
pesan-
pesan
moral,
dan
merupakan
salah
satu
agen
penanaman
nilai-
nilai
moral
yang
baik,
menurut
saya.
Contoh
lainnya
adalah
kesenian
Ludruk
yang
sampai
pada
tahun
1980-an
masih
berjaya
di Jawa
Timur
sekarang
ini
tengah
mengalami
“ mati
suri”.
Wayang
orang
dan
ludruk
merupakan
contoh
kecil
dari
mulai
terdepaknya
kesenian
tradisional
akibat
globalisasi.
Bisa jadi
fenomena
demikian
tidak
hanya
dialami
oleh
kesenian
Jawa
tradisional,
melainkan
juga
dalam
berbagai
ekspresi
kesenian
tradisional
di
berbagai
tempat
di
Indonesia.
Sekalipun
demikian
bukan
berarti
semua
kesenian
tradisional
mati
begitu
saja
dengan
merebaknya
globalisasi.
Di sisi
lain, ada
beberapa
seni
pertunjukan
yang
tetap
eksis
tetapi
telah
mengalami
perubahan
fungsi.
Ada pula
kesenian
yang
mampu
beradaptasi
dan
mentransformasikan
diri
dengan
teknologi
komunikasi
yang
telah
menyatu
dengan
kehidupan
masyarakat,
misalnya
saja
kesenian
tradisional
“ Ketoprak”
yang
dipopulerkan
ke layar
kaca
oleh
kelompok
Srimulat.
Kenyataan
di atas
menunjukkan
kesenian
ketoprak
sesungguhnya
memiliki
penggemar
tersendiri,
terutama
ketoprak
yang
disajikan
dalam
bentuk
siaran
televisi,
bukan
ketoprak
panggung.
Dari segi
bentuk
pementasan
atau
penyajian,
ketoprak
termasuk
kesenian
tradisional
yang
telah
terbukti
mampu
beradaptasi
dengan
perubahan
zaman.
Selain
ketoprak
masih
ada
kesenian
lain
yang
tetap
bertahan
dan
mampu
beradaptasi
dengan
teknologi
mutakhir
yaitu
wayang
kulit.
Beberapa
dalang
wayang
kulit
terkenal
seperti
Ki
Manteb
Sudarsono
dan Ki
Anom
Suroto
tetap
diminati
masyarakat,
baik itu
kaset
rekaman
pementasannya,
maupun
pertunjukan
secara
langsung.
Keberanian
stasiun
televisi
Indosiar
yang
sejak
beberapa
tahun
lalu
menayangkan
wayang
kulit
setiap
malam
minggu
cukup
sebagai
bukti
akan
besarnya
minat
masyarakat
terhadap
salah
satu
khasanah
kebudayaan
nasional
kita.
Bahkan
Museum
Nasional
pun
tetap
mempertahankan
eksistensi
dari
kesenian
tradisonal
seperti
wayang
kulit
dengan
mengadakan
pagelaran
wayang
kulit
tiap
beberapa
bulan
sekali
dan
pagelaran
musik
gamelan
tiap
satu
minggu
atau
satu
bulan
sekali
yang
diadakan
di aula
Kertarajasa,
Museum
Nasional.
D.
PENGARUH
GLOBALISASI
TERHADAP
BUDAYA
BANGSA
Arus
globalisasi
saat ini
telah
menimbulkan
pengaruh
terhadap
perkembangan
budaya
bangsa
Indonesia .
Derasnya
arus
informasi
dan
telekomunikasi
ternyata
menimbulkan
sebuah
kecenderungan
yang
mengarah
terhadap
memudarnya
nilai-
nilai
pelestarian
budaya.
Perkembangan
3T
(Transportasi,
Telekomunikasi,
dan
Teknologi)
mengkibatkan
berkurangnya
keinginan
untuk
melestarikan
budaya
negeri
sendiri .
Budaya
Indonesia
yang
dulunya
ramah-
tamah,
gotong
royong
dan
sopan
berganti
dengan
budaya
barat,
misalnya
pergaulan
bebas.
Di
Tapanuli
(Sumatera
Utara)
misalnya,
duapuluh
tahun
yang
lalu,
anak-
anak
remajanya
masih
banyak
yang
berminat
untuk
belajar
tari tor-
tor dan
tagading
(alat
musik
batak).
Hampir
setiap
minggu
dan
dalam
acara
ritual
kehidupan,
remaja
di sana
selalu
diundang
pentas
sebagai
hiburan
budaya
yang
meriah.
Saat ini,
ketika
teknologi
semakin
maju,
ironisnya
kebudayaan-
kebudayaan
daerah
tersebut
semakin
lenyap
di
masyarakat,
bahkan
hanya
dapat
disaksikan
di
televisi
dan
Taman
Mini
Indonesi
Indah
(TMII).
Padahal
kebudayaan-
kebudayaan
daerah
tersebut,
bila
dikelola
dengan
baik
selain
dapat
menjadi
pariwisata
budaya
yang
menghasilkan
pendapatan
untuk
pemerintah
baik
pusat
maupun
daerah,
juga
dapat
menjadi
lahan
pekerjaan
yang
menjanjikan
bagi
masyarakat
sekitarnya.
Hal lain
yang
merupakan
pengaruh
globalisasi
adalah
dalam
pemakaian
bahasa
indonesia
yang
baik dan
benar
(bahasa
juga
salah
satu
budaya
bangsa).
Sudah
lazim di
Indonesia
untuk
menyebut
orang
kedua
tunggal
dengan
Bapak,
Ibu, Pak,
Bu,
Saudara,
Anda
dibandingkan
dengan
kau
atau
kamu
sebagai
pertimbangan
nilai
rasa.
Sekarang
ada
kecenderungan
di
kalangan
anak
muda
yang
lebih
suka
menggunakan
bahasa
Indonesia
dialek
Jakarta
seperti
penyebutan
kata
gue
(saya)
dan lu
(kamu).
Selain
itu kita
sering
dengar
anak
muda
mengunakan
bahasa
Indonesia
dengan
dicampur-
campur
bahasa
inggris
seperti
OK, No
problem
dan
Yes ’,
bahkan
kata-
kata
makian
(umpatan)
sekalipun
yang
sering
kita
dengar
di film-
film
barat,
sering
diucapkan
dalam
kehidupan
sehari-
hari.
Kata-
kata ini
disebarkan
melalui
media
TV
dalam
film-
film,
iklan
dan
sinetron
bersamaan
dengan
disebarkannya
gaya
hidup
dan
fashion .
Gaya
berpakaian
remaja
Indonesia
yang
dulunya
menjunjung
tinggi
norma
kesopanan
telah
berubah
mengikuti
perkembangan
jaman.
Ada
kecenderungan
bagi
remaja
putri di
kota-
kota
besar
memakai
pakaian
minim
dan
ketat
yang
memamerkan
bagian
tubuh
tertentu.
Budaya
perpakaian
minim
ini
dianut
dari
film-
film dan
majalah-
majalah
luar
negeri
yang
ditransformasikan
kedalam
sinetron-
sinetron
Indonesia .
Derasnya
arus
informasi,
yang
juga
ditandai
dengan
hadirnya
internet,
turut
serta
`menyumbang`
bagi
perubahan
cara
berpakaian.
Pakaian
mini dan
ketat
telah
menjadi
trend
dilingkungan
anak
muda.
Salah
satu
keberhasilan
penyebaran
kebudayaan
Barat
ialah
meluasnya
anggapan
bahwa
ilmu dan
teknologi
yang
berkembang
di Barat
merupakan
suatu
yang
universal.
Masuknya
budaya
barat
(dalam
kemasan
ilmu dan
teknologi)
diterima
dengan
`baik`.
Pada
sisi
inilah
globalisasi
telah
merasuki
berbagai
sistem
nilai
sosial
dan
budaya
Timur
(termasuk
Indonesia )
sehingga
terbuka
pula
konflik
nilai
antara
teknologi
dan
nilai-
nilai
ketimuran.
E.
TINDAKAN
YANG
MENDORONG
TIMBULNYA
GLOBALISASI
KEBUDAYAAN
DAN
CARA
MENGANTISIPASI
ADANYA
GLOBALISASI
KEBUDAYAAN
Peran
kebijaksanaan
pemerintah
yang
lebih
mengarah
kepada
pertimbangan-
pertimbangan
ekonomi
daripada
cultural
atau
budaya
dapat
dikatakan
merugikan
suatu
perkembangan
kebudayaan.
Jennifer
Lindsay
(1995)
dalam
bukunya
yang
berjudul
‘ Cultural
Policy
And The
Performing
Arts In
South-
East
Asia’,
mengungkapkan
kebijakan
kultural
di Asia
Tenggara
saat ini
secara
efektif
mengubah
dan
merusak
seni-
seni
pertunjukan
tradisional,
baik
melalui
campur
tangan,
penanganan
yang
berlebihan,
kebijakan-
kebijakan
tanpa
arah,
dan
tidak
ada
perhatian
yang
diberikan
pemerintah
kepada
kebijakan
kultural
atau
konteks
kultural.
Dalam
pengamatan
yang
lebih
sempit
dapat
kita
melihat
tingkah
laku
aparat
pemerintah
dalam
menangani
perkembangan
kesenian
rakyat,
di mana
banyaknya
campur
tangan
dalam
menentukan
objek
dan
berusaha
merubah
agar
sesuai
dengan
tuntutan
pembangunan.
Dalam
kondisi
seperti
ini arti
dari
kesenian
rakyat
itu
sendiri
menjadi
hambar
dan
tidak
ada
rasa
seninya
lagi.
Melihat
kecenderungan
tersebut,
aparat
pemerintah
telah
menjadikan
para
seniman
dipandang
sebagai
objek
pembangunan
dan
diminta
untuk
menyesuaikan
diri
dengan
tuntutan
simbol-
simbol
pembangunan.
Hal ini
tentu
saja
mengabaikan
masalah
pemeliharaan
dan
pengembangan
kesenian
secara
murni,
dalam
arti
benar-
benar
didukung
oleh
nilai
seni
yang
mendalam
dan
bukan
sekedar
hanya
dijadikan
model
saja
dalam
pembangunan.
Dengan
demikian,
kesenian
rakyat
semakin
lama
tidak
dapat
mempunyai
ruang
yang
cukup
memadai
untuk
perkembangan
secara
alami
atau
natural,
karena
itu,
secara
tidak
langsung
kesenian
rakyat
akhirnya
menjadi
sangat
tergantung
oleh
model-
model
pembangunan
yang
cenderung
lebih
modern
dan
rasional.
Sebagai
contoh
dari
permasalahan
ini
dapat
kita
lihat,
misalnya
kesenian
asli
daerah
Betawi
yaitu,
tari
cokek,
tari
lenong,
dan
sebagainya
sudah
diatur
dan
disesuaikan
oleh
aparat
pemerintah
untuk
memenuhi
tuntutan
dan
tujuan
kebijakan-
kebijakan
politik
pemerintah.
Aparat
pemerintah
di sini
turut
mengatur
secara
normatif,
sehingga
kesenian
Betawi
tersebut
tidak
lagi
terlihat
keasliannya
dan
cenderung
dapat
membosankan.
Untuk
mengantisipasi
hal-hal
yang
tidak
dikehendaki
terhadap
keaslian
dan
perkembangan
yang
murni
bagi
kesenian
rakyat
tersebut,
maka
pemerintah
perlu
mengembalikan
fungsi
pemerintah
sebagai
pelindung
dan
pengayom
kesenian-
kesenian
tradisional
tanpa
harus
turut
campur
dalam
proses
estetikanya.
Memang
diakui
bahwa
kesenian
rakyat
saat ini
membutuhkan
dana
dan
bantuan
pemerintah
sehingga
sulit
untuk
menghindari
keterlibatan
pemerintah
dan bagi
para
seniman
rakyat
ini
merupakan
sesuatu
yang
sulit
pula
membuat
keputusan
sendiri
untuk
sesuai
dengan
keaslian
(oroginalitas)
yang
diinginkan
para
seniman
rakyat
tersebut.
Oleh
karena
itu
pemerintah
harus
‘melakoni’
dengan
benar-
benar
peranannya
sebagai
pengayom
yang
melindungi
keaslian
dan
perkembangan
secara
estetis
kesenian
rakyat
tersebut
tanpa
harus
merubah
dan
menyesuaikan
dengan
kebijakan-
kebijakan
politik.
Globalisasi
informasi
dan
budaya
yang
terjadi
menjelang
millenium
baru
seperti
saat ini
adalah
sesuatu
yang
tak
dapat
dielakkan.
Kita
harus
beradaptasi
dengannya
karena
banyak
manfaat
yang
bisa
diperoleh.
Harus
diakui
bahwa
teknologi
komunikasi
sebagai
salah
produk
dari
modernisasi
bermanfaat
besar
bagi
terciptanya
dialog
dan
demokratisasi
budaya
secara
masal
dan
merata.
Globalisasi
mempunyai
dampak
yang
besar
terhadap
budaya.
Kontak
budaya
melalui
media
massa
menyadarkan
dan
memberikan
informasi
tentang
keberadaan
nilai-
nilai
budaya
lain
yang
berbeda
dari
yang
dimiliki
dan
dikenal
selama
ini.
Kontak
budaya
ini
memberikan
masukan
yang
penting
bagi
perubahan-
perubahan
dan
pengembangan-
pengembangan
nilai-
nilai dan
persepsi
dikalangan
masyarakat
yang
terlibat
dalam
proses
ini.
Kesenian
bangsa
Indonesia
yang
memiliki
kekuatan
etnis
dari
berbagai
macam
daerah
juga
tidak
dapat
lepas
dari
pengaruh
kontak
budaya
ini.
Sehingga
untuk
melakukan
penyesuaian-
penyesuaian
terhadap
perubahan-
perubahan
diperlukan
pengembangan-
pengembangan
yang
bersifat
global
namun
tetap
bercirikan
kekuatan
lokal
atau
etnis.
Globalisasi
budaya
yang
begitu
pesat
harus
diantisipasi
dengan
memperkuat
identitas
kebudayaan
nasional.
Berbagai
kesenian
tradisional
yang
sesungguhnya
menjadi
aset
kekayaan
kebudayaan
nasional
jangan
sampai
hanya
menjadi
alat
atau
slogan
para
pemegang
kebijaksanaan,
khususnya
pemerintah,
dalam
rangka
keperluan
turisme,
politik
dsb.
Selama
ini
pembinaan
dan
pengembangan
kesenian
tradisional
yang
dilakukan
lembaga
pemerintah
masih
sebatas
pada
unsur
formalitas
belaka,
tanpa
menyentuh
esensi
kehidupan
kesenian
yang
bersangkutan.
Akibatnya,
kesenian
tradisional
tersebut
bukannya
berkembang
dan
lestari,
namun
justru
semakin
dijauhi
masyarakat.
Dengan
demikian,
tantangan
yang
dihadapi
oleh
kesenian
rakyat
cukup
berat.
Karena
pada
era
teknologi
dan
komunikasi
yang
sangat
canggih
dan
modern
ini
masyarakat
dihadapkan
kepada
banyaknya
alternatif
sebagai
pilihan,
baik
dalam
menentukan
kualitas
maupun
selera.
Hal ini
sangat
memungkinkan
keberadaan
dan
eksistensi
kesenian
rakyat
dapat
dipandang
dengan
sebelah
mata
oleh
masyarakat,
jika
dibandingkan
dengan
kesenian
modern
yang
merupakan
imbas
dari
budaya
pop.
Untuk
menghadapi
hal-hal
tersebut
di atas
ada
beberapa
alternatif
untuk
mengatasinya,
yaitu
meningkatkan
Sumber
Daya
Manusia
(SDM )
bagi
para
seniman
rakyat.
Selain
itu,
mengembalikan
peran
aparat
pemerintah
sebagai
pengayom
dan
pelindung,
dan
bukan
sebaliknya
justru
menghancurkannya
demi
kekuasaan
dan
pembangunan
yang
berorientasi
pada
dana-
dana
proyek
atau
dana-
dana
untuk
pembangunan
dalam
bidang
ekonomi
saja
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pengaruh
globalisasi
disatu
sisi
ternyata
menimbulkan
pengaruh
yang
negatif
bagi
kebudayaan
bangsa
Indonesia .
Norma-
norma
yang
terkandung
dalam
kebudayaan
bangsa
Indonesia
perlahan-
lahan
mulai
pudar.
Gencarnya
serbuan
teknologi
disertai
nilai-
nilai
interinsik
yang
diberlakukan
di
dalamnya,
telah
menimbulkan
isu
mengenai
globalisasi
dan
pada
akhirnya
menimbulkan
nilai
baru
tentang
kesatuan
dunia.
Radhakrishnan
dalam
bukunya
Eastern
Religion
and
Western
Though
(1924)
menyatakan
“untuk
pertama
kalinya
dalam
sejarah
umat
manusia,
kesadaran
akan
kesatuan
dunia
telah
menghentakkan
kita,
entah
suka
atau
tidak,
Timur
dan
Barat
telah
menyatu
dan
tidak
pernah
lagi
terpisah�.
Artinya
adalah
bahwa
antara
barat
dan
timur
tidak
ada lagi
perbedaan.
Atau
dengan
kata
lain
kebudayaan
kita
dilebur
dengan
kebudayaan
asing.
Apabila
timur
dan
barat
bersatu,
masihkah
ada ciri
khas
kebudayaan
kita?
Ataukah
kita
larut
dalam
budaya
bangsa
lain
tanpa
meninggalkan
sedikitpun
sistem
nilai
kita?
Oleh
karena
itu perlu
dipertahanan
aspek
sosial
budaya
Indonesia
sebagai
identitas
bangsa.
Caranya
adalah
dengan
penyaringan
budaya
yang
masuk
ke
Indonesia
dan
pelestarian
budaya
bangsa.
Bagi
masyarakat
yang
mencoba
mengembangkan
seni
tradisional
menjadi
bagian
dari
kehidupan
modern,
tentu
akan
terus
berupaya
memodifikasi
bentuk-
bentuk
seni
yang
masih
berpolakan
masa
lalu
untuk
dijadikan
komoditi
yang
dapat
dikonsumsi
masyarakat
modern.
Karena
sebenarnya
seni itu
indah
dan
mahal.
Kesenian
adalah
kekayaan
bangsa
Indonesia
yang
tidak
ternilai
harganya
dan
tidak
dimiliki
bangsa-
bangsa
asing.
Oleh
sebab
itu,
sebagai
generasi
muda,
yang
merupakan
pewaris
budaya
bangsa,
hendaknya
memelihara
seni
budaya
kita
demi
masa
depan
anak
cucu.
B.
SARAN –
SARAN
Dari
hasil
pembahasan
diatas,
dapat
dilakukan
beberapa
tindakan
untuk
mencegah
terjadinya
pergeseran
kebudayaan
yaitu : 1.
Pemerintah
perlu
mengkaji
ulang
perturan-
peraturan
yang
dapat
menyebabkan
pergeseran
budaya
bangsa
2.
Masyarakat
perlu
berperan
aktif
dalam
pelestarian
budaya
daerah
masing-
masing
khususnya
dan
budaya
bangsa
pada
umumnya
3. Para
pelaku
usaha
media
massa
perlu
mengadakan
seleksi
terhadap
berbagai
berita,
hiburan
dan
informasi
yang
diberikan
agar
tidak
menimbulkan
pergeseran
budaya
4.
Masyarakat
perlu
menyeleksi
kemunculan
globalisasi
kebudayaan
baru,
sehingga
budaya
yang
masuk
tidak
merugikan
dan
berdampak
negative.
5.
Masyarakat
harus
berati-
hati
dalam
meniru
atau
menerima
kebudayaan
baru,
sehingga
pengaruh
globalisasi
di
negara
kita
tidak
terlalu
berpengaruh
pada
kebudayaan
yang
merupakan
jati diri
bangsa
kita.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Kuntowijoyo,
Budaya
Elite
dan
Budaya
Massa
dalam
Ecstasy
Gaya
Hidup:
Kebudayaan
Pop
dalam
Masyarakat
Komoditas
Indonesia,
Mizan
1997. 2.
Sapardi
Djoko
Damono,
Kebudayaan
Massa
dalam
Kebudayaan
Indonesia:
Sebuah
Catatan
Kecil
dalam
Ecstasy
Gaya
Hidup:
Kebudayaan
Pop
dalam
Masyarakat
Komoditas
Indonesia,
Mizan
1997. 3.
Fuad
Hassan.
“ Pokok-
pokok
Bahasan
Mengenai
Budaya
Nusantara
Indonesia ”.
Dalam
http://
kongres.budpar.go.id/
news/
article/
Pokok_pokok_bahasan.htm,
didownload
7/15/04.
4.
Koenjaraningrat.
1990.
Kebudayaan
Mentalitas
dan
Pembangunan.
Jakarta:
Gramedia.
5.
Adeney,
Bernard
T. 1995.
Etika
Sosial
Lintas
Budaya.
Yogyakarta:
Kanisius.
Al-Hadar
Smith,
“ Syariah
dan
Tradisi
Syi ’ah
Ternate”,
dalam
http://
alhuda.or.id/
rub_budaya.htm ,
didown
load
7/15/04.
6.
http://
www.google=pengaruh
globalisasi
terhadap
eksistensi
kebudayaan
daerah.com/

Tidak ada komentar: